|
Edaran Acara Pelepasan Hajji 1430H |
|
Tuesday, 17 November 2009 |
E D A R A N------------------------- لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لك لبيك، إن الحمد والنعمة لك والملك، لا شريك لك Assalamu'alaikum wr wb, Dengan mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, bersama ini dengan hormat disampaikan bahwa Majelis Taklim KBRI Bangkok mengharapkan kehadiran Bapak/Ibu/Sdr/i Kaum Muslimin/Muslimat Indonesia di Bangkok dan sekitarnya dalam Acara Pelepasan Keberangkatan Jemaah Haji KBRI Bangkok yang akan dilaksanakan, pada: Hari / Tanggal : Rabu, 18 Nopember 2009 Jam : 18.30 Tempat : Masjid As-Syafir KBRI Bangkok Demikian disampaikan atas kehadiran Bapak/Ibu/Sdr/i kami ucapkan terima kasih. Mari kita doakan semoga saudara-saudara kita yang berangkat menunaikan ibadah haji diberikan kesabaran, keikhlasan dan kekuatan oleh Allah SWT agar mendapatkan haji yang mabrur dan digolongkan kedalam haji makhsus. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan ridho dan maghfiroh-Nya kepada kita semua. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. Wassalamu'alaikum wr wb, Bangkok, Nopember 2009 ttd, Darmawel Aswar Ketua Majelis Taklim
NB: DAFTAR NAMA CALON JEMAAH HAJI KBRI BANGKOK 1430 H 1. Bpk Didik Sulistyanto, Atdikbud KBRI Bangkok 2. Ibu Any Christianingrum, Istri Bapak Didik 3. Bpk Bambang Hartawan, mantan Athan KBRI Bangkok 4. Ibu Ida Farida, istri Bapak Bambang H 5. Bpk Dody Suryanto, PTT (Thailand) 6. Ibu Ervian Indah, istri Bapak Doddy 7. Ibu Sabarsih Sari Utami, Guru SIB 8. Bpk Abdul Karim Thaufik, Siemens (Thailand) 9. Ibu Rakhma Surghani, Istri Bapak Thaufik Pembimbing Haji : Mr. Kamol Thongkamwong, Shareef 1400 (Thailand) Co. Ltd Tel. 02-8910948 |
|
|
Pikulan Cilok itu Sumbangan KBRI Bangkok |
|
Monday, 28 September 2009 |
Pikulan Cilok itu Sumbangan KBRI BangkokArief Farihan Kamil | Sabtu, 26 September 2009 Sumber: Priangan Online
HANYA alat pikulan sederhana. Harganya tak lebih dari Rp 300.000. Namun sarana berdagang yang terbuat dari kayu dan seng bantuan Majelis Taklim Kedutaan Besar RI Bangkok di Thailand itu justru menjadi penyambung nafas kehidupan Maman (37) dan keluarganya. "Kini saya bisa menafkahi keluarga lagi," kata pria berkulit legam tersebut, Jumat (25/9). Maman adalah salah seorang korban bencana gempa bumi yang mengguncang Jawa Barat pada awal September lalu. Rumahnya di RT 04/03 Blok Cisepet, Dusun Nanggewer, Desa Jelat, Kec. Baregbeg, Kab. Ciamis, luluh lantak. Gempa memang telah menjungkirkan kehidupan saat ini dan masa depan. Seisi rumah seperti peralatan rumah tangga hingga peralatan dapur, ludes. Kompor penyok, katel bolong, tiga lusin gelas di lemari pecah.
Padahal di rumah berukuran 6 m x 8 m itu ia tinggal bersama lima anggota keluarga lainnya. Selain ayahnya, Sarbini (65) dan ibunya, Ny. Asinah (64), Maman juga mempunyai tanggungan istri dan dua anak, kelas 3 SD serta usia 1,5 tahun. Maklum, ayahnya yang kadang menjadi buruh cangkul lebih sering menganggur. Saat ini keluarga tersebut menumpang di rumah panggung kecil milik tetangganya, Ny. Yati (35).
Sebelum musibah datang, memang Maman berjualan cilok, cireng, makaroni goreng atau cemilan khas anak-anak lainnya. Karena pikulan untuk berjualan cilok itu hancur tertimpa reruntuhan rumah, ia sempat menganggur. Untuk keperluan makan keluarga, keluarga itu mengandalkan bantuan dari dermawan, tetangga serta sedikit dari pemerintah. Tentu, bila tak ada bantuan lagi, ketersediaan beras dan sembako akan habis dalam tempo kurang dari sebulan. "Tadinya saya bingung, kira-kira sebulan ke depan keluarga saya bisa makan atau enggak, ya," imbuh Maman.
Musibah yang menimpa keluarga berstatus di bawah garis kemiskinan itu sempat muncul di HU Priangan dan situs www.prianganonline.com. Kebetulan, sejumlah anggota Majelis Taklim KBRI di Negeri Gajah Putih itu sempat membacanya. Pada saat yang sama majelis taklim yang diketuai Atase Kejaksaan RI di KBRI Bangkok, Darmawel Aswar, SH, MH, sedang menggalang dana untuk sumbangan gempa hingga terkumpul dana zakat maal, infak dan shadaqah sekitar Rp 63.350.000. Akhirnya, dana zakat sebesar Rp 50 juta disumbangkan untuk daerah gempa di Kab. Cianjur, sedangkan dana infak, shadaqah ditambah kas masjid sebesar Rp 13.350.000 untuk korban gempa di Ciamis.
Melalui salah seorang pengurusnya, Wawan Anwar Sadat, SPdI, Maman diberi dana bantuan sebesar Rp 500 ribu. Sebesar Rp 300 ribu untuk membuat pikulan, sisanya untuk modal bahan-bahan makanan. Dana lainnya diberikan masing-masing sebesar Rp 100.000 kepada sekitar 120 keluarga korban gempa yang rumahnya mengalami kerusakan parah di Kampung Cisepet, Kampung Nanggewer (Dusun Nanggewer), Cisagu (Dusun Mekarmulya) di Desa Jelat Kec. Baregbeg, Dusun Mekarsari Desa Kiarapayung (Kec. Rancah), Ciheot Desa Pusakanagara (Kec. Baregbeg), Sukaharja Desa Petirhilir (Kec. Baregbeg), Babakan Desa Karangampel (Kec. Baregbeg) dan Karangsari Desa Putrapinggan (Kec. Kalipucang). Ada pula sejumlah masjid korban gempa dan nenek jompo.
Awalnya, Anwar yang juga guru di Sekolah Indonesia Bangkok di Komplek KBRI Bangkok itu merasa keberatan dititipi amanah uang oleh jemaah pengajian. Namun ia akhirnya bersedia setelah diyakinkan istrinya, Ny. Aas Hikayat SAg, supaya menggandeng media saja. "Sebagai pertanggungjawabannya, saya tentu harus mengabarkan hal ini kepada pada dermawan di Bangkok melalui media. Jadi pemberitaan ini pun sama sekali bukan dimaksudkan untuk riya, tapi sebagai bentuk mengemban kepercayaan bahwa sumbangan telah sampai kepada yang berhak," kata Anwar.
Meski jumlahnya tergolong tidak besar, sumbangan uang tunai tersebut sangat diterima warga korban gempa. Pun, pada hari pertama dan kedua Lebaran, Maman langsung membuat pikulan cilok. Pada hari ketiga Lebaran, Selasa (22/9), ia bisa berdagang lagi. Menurut Maman, meski masih libur sekolah, hasil ngider hari pertama sekitar mulai pukul 07.00-17.00 di wilayah Desa Jelat itu dirinya bisa mengantongi pendapatan kotor sebesar Rp 50.500. Sedangkan hari berikutnya Rp 45.000.
Kini, oleh para konsumennya, cilok maman disebut cilok Bangkok atau cireng KBRI. "Saya mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah memberikan bantuan sehingga saya punya mata pencaharian lagi. Kalau masalah rumah mah saya belum tahu bagaimana, karena bantuan dari pemerintahnya pun belum jelas," imbuh Maman sembari melangkah membunyikan kentongan bambu khas suara dagang cilok. |
|